Senin, 28 November 2016

Keajaiban Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan

     Tata Surya Matahari dengan 8 planetnyaBenar kiranya jika Al Qur’an disebut sebagai mukjizat. Bagaimana tidak, ternyata ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan di abad ke 7 masehi di mana ilmu pengetahuan belum berkembang (saat itu orang mengira bumi itu rata dan matahari mengelilingi bumi), sesuai dengan ilmu pengetahuan modern yang baru-baru ini ditemukan oleh manusia.


Sebagai contoh ayat di bawah:

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” [Al Anbiyaa:30]


Saat itu orang tidak ada yang tahu bahwa langit dan bumi itu awalnya satu. Ternyata ilmu pengetahuan modern seperti teori Big Bang menyatakan bahwa alam semesta (bumi dan langit) itu dulunya satu. Kemudian akhirnya pecah menjadi sekarang ini.


Kemudian ternyata benar segala yang bernyawa, termasuk tumbuhan bersel satu pasti mengandung air dan juga membutuhkan air. Keberadaan air adalah satu indikasi adanya kehidupan di suatu planet. Tanpa air, mustahil ada kehidupan. Inilah satu kebenaran ayat Al Qur’an.


Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.


“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33)


Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:


“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:38)


Langit yang mengembang (Expanding Universe)


Dalam Al Qur’an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini:


“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47)


Menurut Al Qur’an langit diluaskan/mengembang. Dan inilah kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini.


Sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang secara terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat. Para ilmuwan menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan balon yang sedang ditiup.


Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus “mengembang”.


Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang.


Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi.


Gunung yang Bergerak


“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.” [QS 27:88]


14 abad lampau seluruh manusia menyangka gunung itu diam tidak bergerak. Namun dalam Al Qur’an disebutkan gunung itu bergerak.


Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.


Gambar Gerakan Gunung / BenuaPara ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.


Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.


Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.


Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:


Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)


Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)


Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.


“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (Al Qur’an, 15:22)


Ramalan Kemenangan Romawi atas Persia


“Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang).” (Al Qur’an, 30:1-4)


Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi, hampir tujuh tahun setelah kekalahan hebat Bizantium Kristen di tangan bangsa Persia, ketika Bizantium kehilangan Yerusalem. Kemudian diriwayatkan dalam ayat ini bahwa Bizantium dalam waktu dekat menang. Padahal, Bizantium waktu itu telah menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya mustahil baginya untuk mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan kembali. Tidak hanya bangsa Persia, tapi juga bangsa Avar, Slavia, dan Lombard menjadi ancaman serius bagi Kekaisaran Bizantium. Bangsa Avar telah datang hingga mencapai dinding batas Konstantinopel. Kaisar Bizantium, Heraklius, telah memerintahkan agar emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang. Banyak gubernur memberontak melawan Kaisar Heraklius dan dan Kekaisaran tersebut berada pada titik keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang semula dikuasai oleh Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.)


Diselamatkannya Jasad Fir’aun


“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu” [QS 10:92]


ramses.jpgMaurice Bucaille dulunya adalah peneliti mumi Fir’aun di Mesir. Pada mumi Ramses II dia menemukan keganjilan, yaitu kandungan garam yang sangat tinggi pada tubuhnya. Dia baru kemudian menemukan jawabannya di Al-Quran, ternyata Ramses II ini adalah Firaun yang dulu ditenggelamkan oleh Allah swt ketika sedang mengejar Nabi Musa as.

Injil & Taurat hanya menyebutkan bahwa Ramses II tenggelam; tetapi hanya Al-Quran yang kemudian menyatakan bahwa mayatnya diselamatkan oleh Allah swt, sehingga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.


Perhatikan bahwa Nabi Muhammad saw hidup 3000 tahun setelah kejadian tersebut, dan tidak ada cara informasi tersebut (selamatnya mayat Ramses II) dapat ditemukan beliau (karena di Injil & Taurat pun tidak disebut). Makam Fir’aun, Piramid, yang tertimbun tanah baru ditemukan oleh arkeolog Giovanni Battista Belzoni tahun 1817. Namun Al-Quran bisa menyebutkannya karena memang firman Allah swt (bukan buatan Nabi Muhammad saw).


Segala Sesuatu diciptakan Berpasang-pasangan


Al Qur’an yang berulang-ulang menyebut adanya pasangan dalam alam tumbuh-tumbuhan, juga menyebut adanya pasangan dalam rangka yang lebih umum, dan dengan batas-batas yang tidak ditentukan.


“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang mereka tidak ketahui.” [Yaa Siin 36:36]


Kita dapat mengadakan hipotesa sebanyak-banyaknya mengenai arti hal-hal yang manusia tidak mengetahui pada zaman Nabi Muhammad. Hal-hal yang manusia tidak mengetahui itu termasuk di dalamnya susunan atau fungsi yang berpasangan baik dalam benda yang paling kecil atau benda yang paling besar, baik dalam benda mati atau dalam benda hidup. Yang penting adalah untuk mengingat pemikiran yang dijelaskan dalam ayat itu secara rambang dan untuk mengetahui bahwa kita tidak menemukan pertentangan dengan Sains masa ini.


Meskipun gagasan tentang “pasangan” umumnya bermakna laki-laki dan perempuan, atau jantan dan betina, ungkapan “maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” dalam ayat di atas memiliki cakupan yang lebih luas. Kini, cakupan makna lain dari ayat tersebut telah terungkap. Ilmuwan Inggris, Paul Dirac, yang menyatakan bahwa materi diciptakan secara berpasangan, dianugerahi Hadiah Nobel di bidang fisika pada tahun 1933. Penemuan ini, yang disebut “parité”, menyatakan bahwa materi berpasangan dengan lawan jenisnya: anti-materi. Anti-materi memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan materi. Misalnya, berbeda dengan materi, elektron anti-materi bermuatan positif, dan protonnya bermuatan negatif. Fakta ini dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:


“…setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan … dan hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat.”


Semua ini menunjukkan bahwa unsur besi tidak terbentuk di Bumi, melainkan dibawa oleh meteor-meteor melalui letupan bintang-bintang di luar angkasa, dan kemudian “dikirim ke bumi”, persis sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Jelas bahwa fakta ini tak mungkin diketahui secara ilmiah pada abad ke-7, di saat Al Qur’an diturunkan.


Sumber:http://harry.sufehmi.com/archives/2006-06-15-1181/

Empat Pilar Sukses

Empat Pilar Islam

Empat Pilar Sukses

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Di dalam sebuah karyanya yang sudah populer Tsalatsatul Ushul/Tiga Landasan Utama, Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah memberikan mukadimah yang sangat penting bagi kita dalam beragama.
Beliau menjelaskan bahwa ada empat hal penting yang harus kita pelajari; yaitu ilmu, amal, dakwah, dan sabar. Beliau pun menyebutkan dalil atau dasarnya, yaitu firman Allah dalam surat al-‘Ashr yang sudah kita ketahui bersama.
Allah berfirman (yang artinya), “Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Ashr : 1-3)
Di dalam risalah itu, beliau juga menerangkan kepada kita bahwa ilmu yang pokok untuk kita pelajari ada tiga; mengenal Allah, mengenal nabi-Nya, dan mengenal agama Islam dengan landasan dalil.
Apabila kita cermati bersama, di dalam surat tersebut Allah menyebutkan bahwa ciri utama orang yang dikecualikan dari kerugian adalah orang-orang yang beriman. Kemudian, apabila kita lihat kesimpulan yang diberikan oleh Syaikh at-Tamimi bahwa yang pertama kali harus kita pelajari adalah ilmu. Kedua hal ini sama sekali tidak mengandung pertentangan, bahkan keduanya saling berkaitan erat.
Oleh sebab itu, setelah membawakan materi ini -di dalam risalahnya tersebut- Syaikh juga menyebutkan perkataan Imam Bukhari rahimahullah, Bab Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan. Dan sebagaimana sudah kita ketahui bahwasanya iman -dalam akidah Ahlus Sunnah- merupakan perpaduan antara ucapan dan perbuatan. Ucapan lisan dan ucapan hati. Perbuatan hati dan perbuatan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang atau cacat akibat kemaksiatan.
Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa membangun keimanan yang benar tidak bisa dilepaskan dari landasan ilmu yang benar pula. Tanpa ilmu yang benar maka keimanan akan menyimpang dan jauh dari petunjuk Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha : 123)
Oleh sebab itu pula, kita bisa melihat bahwa Imam Bukhari rahimahullah dalam menyusun kitab yang ada di dalam Sahih-nya, maka beliau awali dengan Kitab Bad’ul Wahyi/permulaan turunnya wahyu, kemudian Kitab al-Iman, dan setelah itu Kitab al-‘Ilmi. Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa iman harus dilandasi dengan ilmu, yaitu ilmu yang berasal dari wahyu; baik al-Kitab maupun as-Sunnah.
Intinya, ilmu adalah landasan bagi iman. Oleh sebab itu pula, salah satu syarat dari syahadat laa ilaha illallah ialah harus mengetahui maknanya. Dengan ilmu itu pula niat seorang dalam beramal akan menjadi lurus, dan dengan lurusnya niat akan menjadi jalan menuju kelurusan dalam beramal.
Namun, ilmu saja tidak cukup jika tidak disertai dengan amal. Oleh sebab itu pilar kedua yang harus kita miliki untuk sukses adalah beramal salih. Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Amal inilah yang menjadi salah satu sebab masuknya hamba ke surga, setelah rahmat dan keutamaan dari Allah tentunya.
Amal yang salih adalah amal yang ikhlas karena Allah dan dikerjakan dengan mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kehilangan ikhlas akan menyebabkan orang termasuk kelompok pelaku kesyirikan. Kehilangan ittiba’ atau tidak mengikuti tuntunan Nabi akan menjadikan pelakunya termasuk dalam penganut kebid’ahan.
Pilar yang ketiga setelah ilmu dan amal ialah dakwah. Yang dimaksud dengan dakwah di sini adalah ajakan kepada agama Allah. Berdakwah kepada iman, tauhid, dan syari’at Islam. Memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Berdakwah kepada manusia dengan cara yang hikmah, nasihat yang baik dan kalau perlu diadakan diskusi dan perdebatan dengan metode yang terbaik. Untuk dakwah ini pun dibutuhkan ilmu. Tanpa ilmu, seorang akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.
Pilar yang keempat yaitu sabar. Digambarkan oleh para ulama kita bahwa sabar dalam keimanan laksana kepala bagi anggota badan. Apabila kepalanya hilang maka tidak ada lagi nyawa di badan. Demikianlah sabar, apabila sabar itu lenyap maka lenyap pula keimanan. Karena sabar itu mencakup tiga bagian; sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar ketika tertimpa musibah.
Diantara bentuk kesabaran yang sangat penting dan ditekankan oleh para ulama ialah sabar dalam menimba ilmu, sabar dalam mengamalkan ilmu, dan sabar dalam berdakwah. Karena sudah menjadi sunnatullah bahwa para da’i akan mendapatkan gangguan dan rintangan di jalan Allah. Namun mereka harus tetap bersabar hingga datangnya pertolongan Allah. Karena sesungguhnya Allah pasti menolong orang-orang yang dengan tulus dan ikhlas berjuang menolong agama-Nya.
Demikian pula diantara bentuk kesabaran yang sangat kita butuhkan dan telah menjadi ujian besar bagi umat Islam di sepanjang perjalanan sejarah ialah bersabar dalam menghadapi penguasa yang zalim. Karena sabar dalam menghadapi mereka adalah salah satu pokok diantara pokok-pokok akidah Ahlus Sunnah, sebagaimana ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.
Kita telah melihat bersama dalam sejarah, bagaimana Imam Ahmad bin Hanbal seorang imam panutan dan pembela dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah harus dipenjara selama tiga periode pemerintahan, beliau disiksa, dicambuk dan mendapatkan tekanan sedemikian rupa supaya meninggalkan salah satu akidah Islam tentang al-Qur’an.
Meskipun demikian beliau tetap bersabar dan tidak mau memberontak kepada penguasa muslim yang sah. Karena terjaganya darah dan harta kaum muslimin serta keamanan negara terlalu berharga untuk dikorbankan. Dari sinilah kita bisa memetik pelajaran betapa pentingnya kesabaran di dalam memperjuangkan agama Allah, bukan hanya dorongan semangat dan perasaan tanpa ilmu dan kesabaran.
Ilmu, amal, dakwah, dan sabar. Inilah empat pilar sukses yang kita butuhkan di dalam mengarungi kehidupan yang penuh akan godaan dan rintangan. Semoga Allah berikan kepada kita taufik untuk meraih ilmu yang bermanfaat dan amal salih.


Sumber: https://aqidatuna.com/2761-empat-pilar-sukses.html

Apakah perbedaan antara aqidah dan Manhaj ?

quran aqidah dan manhaj islam

Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah

Suatu saat, Syaikh ditanya:
Apakah disana ada perbedaan antara akidah dengan manhaj?
Beliau menjawab:
Manhaj lebih luas daripada aqidah. Manhaj itu mencakup dalam hal aqidah, perilaku/suluk, akhlak, mu’amalah, bahkan ia meliputi segala sisi kehidupan seorang muslim. Setiap garis ketentuan yang harus dipatuhi oleh seorang muslim maka itu disebut dengan manhaj.
Adapun aqidah, maka yang dimaksud dengannya adalah pokok keimanan, makna kedua kalimat syahadat serta konsekuensi dari keduanya. Inilah yang dimaksud dengan aqidah.
Sumber: al-Ajwibah al-Mufidah ‘ala As’ilah al-Manahij al-Jadidah, hal. 123
Diterjemahkan oleh ustadz Ari Wahyudi (pengajar Ma’had Al-Mubarok, Yogyakarta)


Sumber:  https://aqidatuna.com/2754-apakah-perbedaan-antara-aqidah-dan-manhaj.html

Apakah Iman Itu ?

Iman adalah keyakinan dengan hati, ucapan dengan lisan, dan amalan dengan anggota tubuh.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman’, katakanlah, Kalian belum beriman, tapi katakanlah ‘Kami telah tunduk.’ Karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian…” (Qs. Al-Hujurat: 14)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Iman itu hendaklah: Engkau beriman kepada Allah, kepada Malaikat-Nya, kepada kita-kitab-Nya, kepada Rasul-Rasul-Nya, kepada hari Kiamat, dan hendaklah engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” (Shahih Muslim I/135)
Hasan Al-Bashri berkata: “Iman itu bukanlah dengan berangan-angan dan berhias akan tetapi dia adalah sesuatu yang kokoh dalam hati dan dibuktikan oleh amalan.”
Sumber:
Ambillah Aqidahmu dari Al-Qur’an dan Sunnah, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Al-Husna, 2009


Sumber: https://aqidatuna.com/2748-apakah-iman-itu.html

Apakah Islam itu ?

Islam ialah berserah diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mentauhidkan mengesakan-Nya dan tunduk kepada-Nya dengan penuh kepatuhan akan segala perintah-Nya serta menyelamatkan diri dari perbuatan syirik dan para pelakunya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan. Maka baginya pahala pada sisi Rabbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Qs. Al-Baqarah: 112)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam itu hendaklah engkau menyaksikan bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, hendaklah engkau mendirikan sholat, menunaikan haji ke Baitulloh jika engkau kuasa menjalaninya.” (Shahih Muslim I/135)
Sumber:
Ambillah Aqidahmu dari Al-Qur’an dan Sunnah, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Al-Husna, 2009


Sumber: https://aqidatuna.com/2746-apakah-islam-itu.html

Rahasia Hidup Bahagia Bersama Al-Quran

Al-Quran adalah kalamullah, firman-firman Allah yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui ruhul amin, malaikat Jibril yang mulia ‘alaihissalam. Di dalam Al-Qur’an tersimpan resep hidup bahagia. Di Al-Quran terdapat obat lahir dan obat batin kita. Yaitu dengan membacanya, menghafalnya, mengamalkannya, dan mengajarkannya.
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu senilai dengan sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan ALIF LAM MIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAM satu huruf, dan MIM satu huruf.” (HR. At-Tirmizi no. 2910 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Takhrij Ath-Thahawiah no. 158)
Dari ‘Aisyah radhiallahu anha dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
“Orang yang mahir membaca Al-Qur`an, maka kedudukannya di akhirat bersama para malaikat yang mulia lagi baik. Sementara orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan dia sulit dalam membacanya, maka dia mendapatkan dua pahala.” (HR. Muslim no. 798)


Sumber: https://aqidatuna.com/2744-rahasia-hidup-bahagia-bersama-al-quran.html

Kepercayaan Islam

Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimahsyahādatāin ("dua kalimat persaksian"), yaitu "asyhadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah" - yang berarti "Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah". Esensinya adalah prinsip keesaan Tuhan dan pengakuan terhadap kenabian Muhammad. Adapun bila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua kalimat persaksian ini, ia dapat dianggap telah menjadi seorang muslim dalam status sebagaimualaf (orang yang baru masuk Islam dari kepercayaan lamanya).
Kaum Muslim percaya bahwa Allah mengutus Muhammad sebagai Nabi terakhir setelah diutusnya Nabi Isa 6 abad sebelumnya. Agama Islam mempercayai bahwa al-Qur'an danSunnah (setiap perkataan dan perbuatan Muhammad) sebagai sumber hukum dan peraturan hidup yang fundamental.[12] Mereka tidak menganggap Muhammad sebagai pengasas agama baru, melainkan sebagai penerus dan pembaharu kepercayaan monoteistik yang diturunkan kepada IbrahimMusaIsa, dan nabi oleh Tuhan yang sama. Islam menegaskan bahwa agama Yahudi danKristen belakangan setelah kepergian para nabinya telah membelokkan wahyu yang Tuhan berikan kepada nabi-nabi ini dengan mengubah teks dalam kitab suci, memperkenalkan intepretasi palsu, ataupun kedua-duanya.[13]
Umat Islam juga meyakini al-Qur'an yang disampaikan oleh Allah kepadaMuhammad. melalui perantara Malaikat Jibril adalah sempurna dan tidak ada keraguan di dalamnya (Al-Baqarah 2:2). Di dalam al-Qur'an Allah juga telah berjanji akan menjaga keotentikan al-Qur'an hingga akhir zaman.
Adapun sebagaimana dinyatakan dalamal-Qur'an, umat Islam juga diwajibkan untuk beriman dan meyakini kebenaran kitab suci dan firman-Nya yang diturunkan sebelum al-Qur'an (Zabur,TauratInjil dan suhuf para nabi-nabi yang lain) melalui nabi dan rasul terdahulu sebelum Muhammad.[14]Umat Islam juga percaya bahwa selain al-Qur'an, seluruh firman Allah terdahulu telah mengalami perubahan oleh manusia. Mengacu pada kalimat di atas, maka umat Islam meyakini bahwa al-Qur'an adalah satu-satunya kitab Allah yang benar-benar asli dan sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya.
Umat Islam meyakini bahwa agama yang dianut oleh seluruh nabi dan rasul utusan Allah sejak masa Adam adalah satu agama yang sama dengan (tauhid|satu Tuhan yang sama), dengan demikian tentu saja Ibrahim juga menganut ketauhidan secara hanif (murni) yang menjadikannya seorangmuslim.[15][16] Pandangan ini meletakkan Islam bersama agamaYahudi dan Kristen dalam rumpun agama yang mempercayai Nabi Ibrahim as. Di dalam al-Qur'an, penganut Yahudi dan Kristen sering direferensikan sebagai Ahli Kitab atau orang-orang yang diberi kitab.

Lima Rukun Islam

Islam memberikan banyak amalan keagamaan. Para penganut umumnya digalakkan untuk memegang Lima Rukun Islam, yaitu lima pilar yang menyatukan Muslim sebagai sebuah komunitas.[17] Tambahan dari Lima Rukun, hukum Islam (syariah) telah membangun tradisi perintah yang telah menyentuh pada hampir semua aspek kehidupan dan kemasyarakatan. Tradisi ini meliputi segalanya dari hal praktikal seperti kehalalan, perbankanjihad danzakat.[18]
Isi dari kelima Rukun Islam itu adalah:
  1. Mengucapkan dua kalimah syahadatdan meyakini bahwa tidak ada yang berhak ditaati dan disembah dengan benar kecuali Allah saja dan meyakini bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul Allah.
  2. Mendirikan salat wajib lima kali sehari.
  3. Berpuasa pada bulan Ramadan.
  4. Membayar zakat.
  5. Menunaikan ibadah haji bagi mereka yang mampu.[19]

Enam Rukun Iman

Muslim juga mempercayai Rukun Imanyang terdiri atas 6 perkara yaitu:
  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada malaikat Allah
  3. Iman kepada Kitab Allāh (Al-Qur'an,InjilTauratZabur dan suhuf)
  4. Iman kepada nabi dan rasul Allah
  5. Iman kepada hari kiamat
  6. Iman kepada qada dan qadar [20]

Sumber:Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimahsyahādatāin ("dua kalimat persaksian"), yaitu "asyhadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah" - yang berarti "Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah". Esensinya adalah prinsip keesaan Tuhan dan pengakuan terhadap kenabian Muhammad. Adapun bila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua kalimat persaksian ini, ia dapat dianggap telah menjadi seorang muslim dalam status sebagaimualaf (orang yang baru masuk Islam dari kepercayaan lamanya).
Kaum Muslim percaya bahwa Allah mengutus Muhammad sebagai Nabi terakhir setelah diutusnya Nabi Isa 6 abad sebelumnya. Agama Islam mempercayai bahwa al-Qur'an danSunnah (setiap perkataan dan perbuatan Muhammad) sebagai sumber hukum dan peraturan hidup yang fundamental.[12] Mereka tidak menganggap Muhammad sebagai pengasas agama baru, melainkan sebagai penerus dan pembaharu kepercayaan monoteistik yang diturunkan kepada IbrahimMusaIsa, dan nabi oleh Tuhan yang sama. Islam menegaskan bahwa agama Yahudi danKristen belakangan setelah kepergian para nabinya telah membelokkan wahyu yang Tuhan berikan kepada nabi-nabi ini dengan mengubah teks dalam kitab suci, memperkenalkan intepretasi palsu, ataupun kedua-duanya.[13]
Umat Islam juga meyakini al-Qur'an yang disampaikan oleh Allah kepadaMuhammad. melalui perantara Malaikat Jibril adalah sempurna dan tidak ada keraguan di dalamnya (Al-Baqarah 2:2). Di dalam al-Qur'an Allah juga telah berjanji akan menjaga keotentikan al-Qur'an hingga akhir zaman.
Adapun sebagaimana dinyatakan dalamal-Qur'an, umat Islam juga diwajibkan untuk beriman dan meyakini kebenaran kitab suci dan firman-Nya yang diturunkan sebelum al-Qur'an (Zabur,TauratInjil dan suhuf para nabi-nabi yang lain) melalui nabi dan rasul terdahulu sebelum Muhammad.[14]Umat Islam juga percaya bahwa selain al-Qur'an, seluruh firman Allah terdahulu telah mengalami perubahan oleh manusia. Mengacu pada kalimat di atas, maka umat Islam meyakini bahwa al-Qur'an adalah satu-satunya kitab Allah yang benar-benar asli dan sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya.
Umat Islam meyakini bahwa agama yang dianut oleh seluruh nabi dan rasul utusan Allah sejak masa Adam adalah satu agama yang sama dengan (tauhid|satu Tuhan yang sama), dengan demikian tentu saja Ibrahim juga menganut ketauhidan secara hanif (murni) yang menjadikannya seorangmuslim.[15][16] Pandangan ini meletakkan Islam bersama agamaYahudi dan Kristen dalam rumpun agama yang mempercayai Nabi Ibrahim as. Di dalam al-Qur'an, penganut Yahudi dan Kristen sering direferensikan sebagai Ahli Kitab atau orang-orang yang diberi kitab.

Lima Rukun Islam

Islam memberikan banyak amalan keagamaan. Para penganut umumnya digalakkan untuk memegang Lima Rukun Islam, yaitu lima pilar yang menyatukan Muslim sebagai sebuah komunitas.[17] Tambahan dari Lima Rukun, hukum Islam (syariah) telah membangun tradisi perintah yang telah menyentuh pada hampir semua aspek kehidupan dan kemasyarakatan. Tradisi ini meliputi segalanya dari hal praktikal seperti kehalalan, perbankanjihad danzakat.[18]
Isi dari kelima Rukun Islam itu adalah:
  1. Mengucapkan dua kalimah syahadatdan meyakini bahwa tidak ada yang berhak ditaati dan disembah dengan benar kecuali Allah saja dan meyakini bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul Allah.
  2. Mendirikan salat wajib lima kali sehari.
  3. Berpuasa pada bulan Ramadan.
  4. Membayar zakat.
  5. Menunaikan ibadah haji bagi mereka yang mampu.[19]

Enam Rukun Iman

Muslim juga mempercayai Rukun Imanyang terdiri atas 6 perkara yaitu:
  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada malaikat Allah
  3. Iman kepada Kitab Allāh (Al-Qur'an,InjilTauratZabur dan suhuf)
  4. Iman kepada nabi dan rasul Allah
  5. Iman kepada hari kiamat
  6. Iman kepada qada dan qadar [20]